sholat malam

Posted: Januari 20, 2010 in Uncategorized
Tag:

[Tips] Bangun Malam-Malam

(Qiyamullail) Menegakkan Shalat Tahajjud

1. ”Memahami Keutamaan (atammah) Shalat Malam”

o Shalat tahajjud adalah shalat yang paling utama setelah shalat wajib

o “Sebaik-baik puasa setelah puasa ramadhan adalah puasa bulan muharram

dan sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat lail” [Hadits

Riwayat. Muslim no. 1163]

o “Sholat yang paling utama sesudah sholat fardhu adalah qiyamul lail

(sholat di tengah malam)” (Muttafaqun ‘alaih)

o Orang yang menegakkan qiyamullail akan terpelihara dari gangguan setan, dan

bangun di pagi hari dalam keadan segar dan bersih jiwanya

o Suatu hari pernah diceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

tentang orang yang tidur semalam suntuk tanpa mengingat untuk sholat, maka

beliau menyatakan: “Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua

telinganya” (Muttafaqun ‘alaih)

o Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menceritakan: “Setan mengikat pada

tengkuk setiap orang diantara kalian dengan 3 ikatan (simpul) ketika kalian akan

tidur. Setiap simpulnya ditiupkanlah bisikannya (kepada orang yang tidur itu):

“Bagimu malam yang panjang, tidurlah dengan nyenyak.” Maka apabila

(ternyata) ia bangun dan menyebut nama Allah Ta’ala (berdoa), maka

terurailah (terlepas) satu simpul. Kemudian apabila ia berwudhu, terurailah

satu simpul lagi. Dan kemudian apabila ia sholat, terurailah simpul yang

terakhir. Maka ia berpagi hari dalam keadaan segar dan bersih jiwanya. Jika

tidak (yakni tidak bangun sholat dan ibadah di malam hari), maka ia berpagi hari

dalam keadaan kotor jiwanya dan malas (beramal shalih)” (Muttafaqun ‘alaih)

o Mengetahui di malam hari itu ada 1/3 malam terakhir dimana Allah Subhanahu

wa Ta’ala akan mengabulkan doa orang yang berdoa, memberi sesuatu bagi

yang memintaa, dan mengampuni yang memohon ampun pada-Nya

o Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasannya Nabi bersabda: “Allah

turun ke langit dunia setiap malam pada 1/3 malam terakhir. Allah lalu

berfirman, Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang

meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta ampun kepada-

Ku tentu Aku ampuni. Demikianlah keadaannya hingga terbit fajar” (HR.

Bukhari no. 145 dan Muslim no. 758)

o ” Rabb (Tuhan) kami yang Maha Suci lagi Maha Tinggi turun kelangit dunia

tiap malam ketika tersisa 1/3 malam terakhir seraya berkata: “Siapa berdo´a

kepada-Ku pasti Aku kabulkan, siapa meminta kepada-Ku pasti Aku beri

dan siapa memohon ampun kepada-Ku pasti Aku ampuni ia”(HR. Bukhari –

o “Posisi Rabb (Allah) yang paling dekat dengan hambanya adalah

dipenghujung malam, jika anda mampu untuk berzdikir kepada Allah pada saat

itu maka lakukanlah” (HR. At-Tirmidzi, Ibn Huzaimah dll dengan sanad shahih)

o “Pintu-pintu langit dibuka pada pertengahan malam lalu penyeru-pun menyeru:

“Apakah ada orang berdo´a, pasti dikabulkan do´anya. Apakah ada orang

meminta, pasti diberi permintaannya. Dan apakah ada orang yang sumpek

(banyak problem), pasti dihilangkan darinya. Maka tidaklah seorang muslimpun

yang berdo´a saat itu melainkan pasti Allah mengabulkannya kecuali zaniah

(pelacur yang belum bertaubat) dan `Asysyaar (Seorang yang mengambil

harta manusia dengan cara bathil)” (Hadits shahih diriwayatkan at-Tabhrani)

o “Sesungguhnya, di malam hari ada satu waktu. Tidaklah seorang muslim berdoa

kepada Allah mohon kebaikan dunia dan akhirat di malam itu, kecuali Allah pasti

mengabulkan permohonannya. Waktu tersebut ada pada tiap-tiap malam” (HR.

o “Rabb kalian turun setiap malam ke langit dunia tatkala lewat tengah malam, lalu

Ia berfirman: “Adakah orang yang berdoa agar Aku mengabulkan doanya?”

(HR Bukhari 3/25-26)

o Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

yang memohon ampun mengampuninya, siapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku pun akan memberinya, dan siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya” Hal ini terus terjadi sampai terbitnya fajar. (Tafsir Ibnu

o Dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwasanya rasulullah bersabda: “shalat yang

paling dicintai Allah adalah shalatnya nabi Daud, dan puasa yang paling

dicintai oleh Allah adalah puasanya nabi Daud, beliau tidur separuh malam,

bangung sepertiganya, tidur seperenamnya, dan berpuasa satu dan tidak

berpuasa satu hari” (muttafaq alaih).

o Menjadikan sebab masuk surga.

o Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia,

sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan

sholatlah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya engkau

akan masuk surga dengan selamat” (HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al

o Menaikkan derajat di surga: “Sungguh di dalam surga tedapat kamar-kamar

yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam.

Kamar-kamar itu Allah sediakan bagi orang yang memberi makan,

melembutkan perkataan, mengiringi puasa Romadhan (dengan puasa

sunah), menebarkan salam dan mengerjakan sholat malam ketika manusia

lain terlelap tidur” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)

2. Membangkitkan ‘Azzam (Keinginan Kuat) untuk Bangun Shalat

 “Berusaha merasakan penuh kesadaran mendalam, keinginan yang kuat

serta harapan menggebu-gebu

menggebu-gebu”

o Kerinduan yang teramat sangat teruntuk bertaqarrub kepada Allah

di keheningan malam dengan bangun malam-malam mengisinya dengan

shalat dan ibadah

 Kuatkan rasa cinta kita kepada Allah, apalagi dengan mengerjakan sholat

malam kita akan dapat bercakap-cakap dengan Allah ‘azza wa jalla lebih dekat.

Betapa tiap patah kata yang kita ucapkan benar-benar munajat kepada Allah

 Meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla pasti akan memperhatikan dan

menyaksikan apa saja yang terlintas dalam hati dan benak kita

 Memahami, seseorang yang benar-benar ingin dicintai Allah pasti akan

berusaha menyendiri (berkhalwat) dengan-Nya, merasakan lazatnya

bermunajat sepenuh hati dan kekuatan. Sehingga akan menyebabkan tahan

(kuatnya) beribadah sepanjang malam…

Saat untuk menatap diri pada-Nya di heningnya malam, mengadu

menyampaikan segala kelu dan gelisah kita seharian meratap pada-Nya, serta

menjemput ketenangan jiwa

3. Berusaha Menunaikan

enunaikanya Berarti Kita Telah Mentaati Perintah Allah

dan Rasul-Nya dan Allah Akan mengangkat

o “Dan pada sebagian malam hari, sholat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah

bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (Al-

o Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqor menerangkan: “At-Tahajjud adalah

sholat di waktu malam sesudah bangun tidur. Adapun makna ayat “sebagai

ibadah nafilah” yakni sebagai tambahan bagi ibadah-ibadah yang fardhu.

Disebutkan bahwa sholat lail itu merupakan ibadah yang wajib bagi Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebagai ibadah tathowwu’ (sunnah) bagi umat

beliau” (lihat Zubdatut Tafsir, hal. 375 dan Tafsir Ibnu Katsir: 3/54-55)

o Ketika Allah menyebutkan sifat-sifat orang yang bertakwa bahwa mereka:

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka

mohon ampun (kepada Allah)” (Adzariyat : 17-18).

o Allah Ta’aala berfirman tentang sifat ‘ibadur-Rahman: “Dan orang yang melalui

malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (Shalat

malam)” (QS. Al-Furqan: 64)

o “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (untuk shalat malam), sedang

mereka berdo´a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan

mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.

Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu

(bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai

balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. As-Sajdah: 16-17)

asulullah, Sebaik-baik

4. Meneladani Rasul

untuk Mengikutin

engikutinya

 “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari,

kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua

itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan

perlahan-lahan” (Al-Muzzammil: 1-4)

 Dari aisyah -Radhiallahu ‘Anha berkata: “Bahwasannya Rasulullah -Shallallaahu

‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam shalat malam sampai pecah-pecah (bengkak)

kedua kakinya, lalu akupun berkata kepada Beliau: “Mengapa Anda lakukan ini

wahai Rasulullah, padahal telah diampuni dosa anda yang lalu dan yang akan

datang?” Beliau -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Tidakkah

sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur” (HR. Bukhari – Muslim)

 Al-Aswad bin Yazid berkata: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallaahu

anha tentang shalat malam Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. ‘Aisyah

menjawab: “Biasanya beliau tidur di awal malam, kemudian tengah malamnya

beliau bangun mengerjakan shalat malam. Bila merasa ada keperluan beliau

segera menemui istri. Beliau segera bangkit begitu mendengar seruan azan.

Beliau segera mandi bila dalam keadaan junub. Jika tidak, maka beliau segera

berwudhu’ lalu berangkat (ke masjid untuk) shalat” (HR. Al-Bukhari)

 Shalat malam rasulullah sangat mengagumkan: Abu Abdillah Hudzaifah ibnul Yaman

Radhiallaahu anhu mengisahkan: “Pada suatu malam, aku pernah shalat tahajjud

bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Beliau mengawali shalat dengan

membaca surat Al-Baqarah, saya berkata di dalam hati, “Mungkin setelah membaca

kira-kira seratus ayat, ternyata beliau terus tidak berhenti, saya berkata lagi di dalam

hati, “Mungkin, beliau selesaikan pembacaan surat Al-Baqarah. Dalam satu raka’at

ternyata beliau terus memulai surat Ali Imron kemudian terus mem-bacanya saya

berbicara di dalam hati: (mungkin) beliau mau ruku setelah selesai Ali-Imron,

ternyata beliau terus membaca surat An Nisa sampai habis. Beliau membaca surat-

surat tersebut dengan bacaan tartil. Setiap kali membaca ayat yang menyebutkan

kemahasucian Allah Ta’ala beliau selalu bertasbih (mengucapkan subhanallah).

Setiap kali membaca ayat yang berisikan permohonan, beliau pasti berdoa.

Setiap kali membaca ayat yang menyebutkan permintaan berlindung diri

kepada Allah Ta’ala, beliau segera mengucapkan ta’awwudz. Ketika ruku’ beliau

membaca: Subhaana Rabbiyal ‘Adzhiim (“Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung”)

Lama ruku’ beliau hampir sama dengan lama berdiri. Kemudian beliau

mengucapkan: Sami’allahuliman hamidah, Rabbana lakal hamdu “Allah Maha

mendengar terhadap hamba yang memuji-Nya. Ya Rabb kami, segala puji bagi-Mu.”

Kemudian beliau tegak berdiri (i’tidal), hampir sama lamanya dengan ruku’.

Kemudian beliau sujud dan membaca: Subhaana Rabbiyal ‘A’la ( “Maha Suci

Rabbku Yang Maha Luhur.” ) Lama sujud beliau hampir sama dengan lama

i’tidal.” (HR. Muslim)

5. Qiyamullail Adalah Kebiasaan Orang-Orang Shalih dan Calon

 “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga

dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb

mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang

yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam,

dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)” (Adz-

“Hendaklah kalian melakukan sholat malam, karena sholat malam itu adalah

kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian, dan ibadah yang mendekatkan

diri pada Tuhan kalian serta penutup kesalahan dan sebagai penghapus dosa”

(HR. Tirmidzi no. 3549, Al Hakim I/380, Baihaqi II/502. Dihasankan oleh Syaikh Al

Albani dalam Irwa Al Ghalil II/199/no. 452)

 “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah (yakni Abdullah bin Umar bin Khaththab

radhiyallahu ‘anhuma, -ed) seandainya ia sholat di waktu malam” (HR Muslim No.

2478 dan 2479). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati Abdullah

ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi

seperti fulan, ia kerjakan shalat malam, lalu ia meninggalkannya” (HR

Bukhari 3/31 dan Muslim 2/185)

6. Meneladani Kesungguhan

esungguhan Para Salafus Shalih Dalam Menegakkan

 Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa tatkala orang-orang sudah terlelap

dalam tidurnya, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu justru mulai bangun untuk

shalat tahajjud, sehingga terdengar seperti suara dengungan lebah (yakni

Al-Qur’an yang beliau baca dalam sholat lailnya seperti dengungan lebah,

karena beliau membaca dengan suara pelan tetapi bisa terdengar oleh orang

yang ada disekitarnya, ed.), sampai menjelang fajar menyingsing

 Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya: “Mengapa orang-orang

yang suka bertahajjud itu wajahnya paling bercahaya dibanding yang lainnya?”

Beliau menjawab: “Karena mereka suka berduaan bersama Allah Yang Maha

Rahman, maka Allah menyelimuti mereka dengan cahaya-Nya

 Abu Sulaiman berkata: “Malam hari bagi orang yang setia beribadah di

dalamnya, itu lebih nikmat daripada permainan mereka yang suka hidup

bersantai-santai. Seandainya tanpa adanya malam, sungguh aku tidak suka

 Al-Imam Ibnu Al-Munkadir menyatakan : “Bagiku, kelezatan dunia ini hanya

ada pada tiga perkara, yakni qiyamul lail, bersilaturrahmi dan sholat

7. Mengingat, Kemuliaan Seorang yang Beriman Ada Pada Shalat

 Ketika Jibril datang pada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Hai

Muhammad, kemuliaan orang beriman adalah dengan sholat malam. Dan

kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain” (HR.

Al Hakim, dihasankan oleh Al Albani, Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 831)

 “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan

bacaan di waktu itu lebih berkesan”(QS. Al-Muzammil: 6)

Qiyamul lail merupakan amalan utama, lebih utama daripada shalat sunnah di

siang hari; karena di waktu sepi kita akan lebih ikhlas kepada Allah dan karena

beratnya meninggalkan tidur, serta kelezatan bermunajat kepada Allah azza

wajalla terutama pada kemuliaan 1/3 akhir malam

Maka berusaha menjadikan

enjadikan qiyamullail kebiasaan dan kebutuhan pokok kita

o Sebagaimana betapa butuhnya kita akan kasih-sayang Allah menghamba

pada-Nya, maka kita buktikan dengan senantiasa menghadap pada-Nya di

1/3 akhir malam, berkesendirian dengan-Nya

8. Meniatkan (‘azzam yang kuat/affirmasi

emuliakan Keheningan

Bisa Bangun Memuliaka

 Berusaha bersikap adil teruntuk dunia dan akhirat kita

o Mengingat: “Jika malam-malam kita sebelumnya telah sekian lama kita

habiskan untuk tidur saja, sudah saatnya mulai malam ini kita bangun

membasuh muka dengan air wudhu’ dan lekas menyongsong perjumpaan

o Serta, sudah Adilkah jatah waktu kita antara dunia dan akhirat dalam

keseharian kita?, maka mari kita menggenapi ketidak-adilan kita selama ini

pada agama dan akhirat kita serta urusan diri kita kepada Allah dengan

 Mulai malam ini, saat Allah masih memberi kesempatan pada diri kita

sebelum kesempatan itu tiada (Allah mencabut-Nya)…

Menjadikan tiap malam kita menjadi malam-malam yang berkesan, penuh

dengan doa-doa kita memohon ampun kepada Allah, bercakap-cakap erat

dengan-Nya dan bukanya bertabur dosa dan kemaksiatan

o Buktikan kita benar-benar mengharap hidayah dan kekuatan dari Allah,

sehingga hati kita akan menjadi bersih, dan diberi kemudahan menuju jalan

kebaikan dan keselamatan akhirat kita

o Dan semoga kita termasuk golongan hamba-Nya yang beruntung

o Merasakan manfaatnya bagi jiwa kita; dengan melaksanakannya akan

mendatangkan pencerahan pada jiwa dan ketenangan hati kita

o Mencukupkan malam-malam kita sebagai tempat berkeluh kesah hanya

kepada Allah. Dengan sederas mungkin tangis kita, biarlah air mata meluap

menunjukkan kelemahan dan ketidak-berdayaan diri kita

o Tatkala seorang hamba menyembunyikan amal ibadah tertutup pekatnya

malam, insya Allah Allah akan menutup pula aib-aib kita dan terhindar dari segala

keburukan amalan kita

9. Mengusahkan Hal-hal Yang Akan Mempermudah Kita Bangun

Mengusahakan tidak terlalu banyak makan dan minum sebelumnya

 Yang akan membuat perut terlalu kenyang dan mata mengantuk (terasa berat)

untuk bangun ditengah malam

Mengusahakan untuk tidur pada siang hari meskipun sebentar

 Sebab dengan adanya tidur siang tersebut akan memudahkan kita untuk bangun

Berusaha senantiasa memuliakan masjid dan menitipkan hati kita disana

 Dengan meramaikanya untuk ibadah dan shalat jamaah diawal waktu (teruntuk

 Sehingga akan terbiasa, merasuk menjadi jati diri kita untuk senantiasa

menjaga waktu-waktu ibadah kita kepada Allah secara berjamaah penuh

Berusaha dekat dan bergaul merekatkan diri pada orang-orang shaleh

 Orang yang akan memberi kita nasehat (mengingatkan) akan kesalahan dan

o “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia;

melaksanakan amar makruf nahi mungkar dan beriman kepada

Allah” (QS Ali Imran [3]: 110)

 Dan bukan sekedar teman dalam kesenangan saja yang biasanya malah

menjerumuskan (menyesatkan)

eninggalkan Maksiat, Dosa dan Perbuatan Bid’ah

10. Berusaha meninggalkan

 Al-Imam Hasan Al-Bashri pernah menegaskan:

o “Sesungguhnya orang yang telah melakukan dosa, akan terhalang

dari qiyamul lail.” Ada seseorang yang bertanya: “Aku tidak dapat

bangun untuk untuk qiyamul lail, maka beritahukanlah kepadaku apa

yang harus kulakukan?” Beliau menjawab : “Jangan engkau bermaksiat

(berbuat dosa) kepada-Nya di waktu siang, niscaya Dia akan

membangunkanmu di waktu malam” (Tazkiyyatun Nufus, karya Dr

Ahmad Farid)

Berusaha untuk senantiasa mengawasi diri (menghisab diri) tiap amalan

o Bahkan dari segala yang terlintas dalam benak kita serta informasi yang

layak (boleh masuk) dalam ingatan (perhatian) kita

anfaatkan Segala Sumber-Daya Yang Kita Miliki Untuk Bisa

Bangun Shalat Malam

Seperti beker, alarm HP dan program-program reminter shalat (seperti mawaqit

untuk hp yang sudah support java), dll serta teman, dan suami-istri untuk saling

membantu serta berjamah melaksanakanya

 Selain saling membangunkan suami-istri, dan keluarga juga saling

membangunkan tetangga atau teman dengan menelpon/misscal melalui

HP-nya. Saling berta’awun dalam kebaikan dan taqwa

o “Allah memberi rahmat kepada seorang suami yang bangun malam lalu shalat

dan (tidak lupa) membangunkan istrinya kemudian ia shalat juga. Jika istrinya

enggan, dia (boleh) memerciki wajah istrinya dengan air. Allah memberi rahmat

kepada seorang istri yang bangun malam kemudian mengerjakan shalat, dan ia

tidak lupa membangunkan suaminya. Jika suaminya malas bangun, ia boleh

memerciki wajah suaminya dengan air” (HR Abu Daud).

12. Mempersiapkan Diri Sebelumnya Dengan Tidur Diawal Waktu dan

Meniatkan Untuk Bangun Shalat Malam

 “Disunnahkan bagi seorang muslim tidur dalam keadaan suci, dan

barangsiapa yang bermalam dalam keadaan suci maka malaikat ikut bermalam

bersamanya, dan ia tidak bangung kecuali malaikat berkata: Ya Allah,

ampunilah hambamu fulan, karena ia bermalam dalam keadaan suci”(HR.

 Disunnahkan segera tidur (tidur di awal malam dan menjauhkan diri dari

begadang kecuali dalam hal-hal yang baik) agar bisa bangun untuk shalat

malam dengan segar, dan disunnahkan bangun ketika mendengar adzan,

sebagaimana sabda rasulullah: “apabila salah seorang dari kalian tidur, setan

membuat tiga ikatan di kepalanya, ia mengatakan pada setiap ikatan, malam

masih panjang maka tidurlah”

o Rasulullah membenci tidur sebelum shalat ‘isya dan berbicara sesudah

Shalat Isya. sebagaimana disebut dalam hadits riwayat Ibnu Mas’ud:

“Tidak diperkenankan bercakap-cakap di malam hari kecuali bagi

orang yang sedang mengerjakan shalat atau sedang bepergian”

(HR. Ahmad, As-Suyuti menandainya sebagai hadits hasan).

perhatikan adab-adab tidur

 Ketika akan tidur memperhatikan

o Seperti membaca do’a sebelum tidur, membaca ayat kursi, membaca 2

ayat terakhir dari surat Al Baqarah, membaca Surat Al Kaafirun, dll

 Sunnah sebelum tidur berniat qiyamullail, jika ia tertidur dan tidak bangun,

maka ditulis baginya apa yg ia niatkan, dan tidurnya merupakan sedekah dari

o Termasuk permohonan untuk dibangunkan agar bisa menunaikan shalat

o Dan menjaga niat ikhlas karena mengharap ridha Allah

 Seorang muslim seharusnya berusaha bangun malam dan tidak

meninggalkannya, karena nabi sendiri melakukan qiyamul lail hingga

kakinya pecah-pecah

13. Persiapan Sebelum Shalat Tahajjud

“Jika ia bangun dan berdzikir kepada Allah, maka lepaslah satu ikatan, jika

berwudhu’ maka lepas satu ikatan, dan jika shalat, lepas satu ikatan, maka ia

masuk waktu pagi dengan segar dan jiwanya tenang, kalau tidak, maka ia masuk

waktu pagi dg jiwa yg tidak tenang dan malas” (Muttafaq alaih)

Begitu bangun tidur usap wajah dengan kedua telapak tangan kita seraya

membaca doa bangun tidur atau sekurang-kurangnya mengucapkan:

o Alhamdulillah…, dilanjutkan dengan membaca QS. Ali Imran ayat 190

Disunnahkan bagi orang yang mengerjakan shalat lail untuk bersiwak

(menggosok gigi lebih dahulu sebelum wudu’) dan membaca ayat-ayat terakhir

dari surat Ali Imran mulai dari firman Allah..

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumu dan silih

o Artinya: “Sesungguhnya

bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang

yang berakal” [ Ali Imran : 190] dibaca sampai akhir surat

Disunnahkan shalat tahajjud di rumah, membangunkan keluarganya dan

sekali-kali shalat mengimami mereka

 Tidak shalat dalam keadaan mengantuk, jika sangat mengantuk segera tidur

14. Sunnah Memulai Shalat Lail Dengan 2 raka’at Yang Ringan

(pendek). Hal itu dilakukan hingga datangnya semangat untuk

memanjangkan raka’atnya setelah 2 rakaat yang pendek tersebut

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Apabila salah seorang diantara kalian mendirikan shalat lail hendaklah

membuka shalatnya dengan shalat 2 raka’at yang ringan (surat-surat yang

dibaca pendek. Pent)” [Hadits Riwayat. Muslim no. 768]

15. Sunnah Memulai Shalat Malam Dengan Do’a yang Shahih dari

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

“Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai

Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum

(untuk memutuskan) apa yang mereka (orang-orang Nasrani dan Yahudi)

pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan

dengan seizinMu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus

bagi orang-orang yang Engkau kehendaki”

Abu Dawud no. 767, Ibnu Majah no. 1357]

16. Sunnah Memanjangkan Shalat Malam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Shalat apakah yang paling

baik?” Rasulullah menjawab : “Yang panjang qunutnya (lama berdirinya)

[Hadits Riwayat. Muslim no.756]

Qunut dalam hadits ini memiliki banyak arti berdasarkan banyak riwayat. Dalam

Hadyus Saari Muqaddimah dari Fathul Baari oleh Ibnu Hajar hal. 305 (Cet. Daar

Abi Hayyaan) pasal Qaf Nun disebutkan tentang makna qunut antara lain do’a,

berdiri, tenang, diam, ketaatan, shalat, kekhusu’an, ibadah, dan

memperpanjang berdiri. Pent.

Juga sunnah memperpanjang sujud dan memanjangkan berdiri membaca

al-Qur’an (membaca surat pabjang yang kita kuasai). Sesekali membaca

dengan keras dan sekali-kali pelan

17. Sunnah Berta’wudz (Memohon Perlindungan Allah) Ketika

Membaca Ayat tentang ‘Adzab dengan ucapan:

“Aku berlindung kepada Allah dari Adzab Allah”

Dan Memohon Rahmat Allah Ketika Membaca Ayat tentang Permohonan

“Ya Allah aku meminta kepadaMu dari karuniaMu”

Dan Bertasbih Ketika Membaca Ayat-Ayat yang Mengandung

tentang Ke-Maha-Sucian Allah

Hal diatas berdasar hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (ayat) dengan tartil apabila

beliau melewati satu ayat tasbih maka beliaupun membaca tasbih. Apabila

melewati ayat permohonan (tentang rahmat,-ed) maka beliaupun memohon.

Dan apabila melewati ayat memohon perlindungan, maka beliaupun memohon

perlindungan (bertaawudz)…”

[Hadits Riwayat. Muslim no. 772]

18. Disunnahkan (Orang yang Mengerjakan

engerjakan Shalat Malam) Berdoa

Dengan Do’a Shahih yang Diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa

“Ya Allah, bagiMu segala puji, Engkaulah Penegak langit dan bumi dan segala

isinya. BagiMu segala puji, milikMu kerajaan langit dan bumi serta segala isinya.

bagiMu segala puji (Engkau) Pemberi cahaya langit dan bumi (serta segala

isinya). bagiMu segala puji, Engkau penguasa langit dan bumi. bagiMu segala

puji Engkau lah Yang Maha benar, janji-Mu itu benar adanya dan pertemuan

dengan-Mu itu benar adanya. FirmanMu itu benar, surga itu benar, neraka itu benar,

para nabi itu benar, Nabi Muhammad itu benar (utusanMu), kiamat itu benar adanya.

Ya Allah, kepadaMu aku bertawakal, kepadaMu aku kembali, kepadaMu aku

mengadu dan kepadaMu aku berhukum. Ampunilah dosaku di masa lalu, masa

yang akan datang, yang tersebunyi serta yang nampak (Karena Engkau adalah

Maha Mengetahui itu daripada aku). Engkau lah Yang terdahulu dan Yang

terakhir (Engkau Tuhanku) dan tidak ada Tuhan kecuali Engkau atau tidak ada

Tuhan (bagiku) kecuali Engkau” [Hadits Riwayat. Bukhari no. 1120, 6317, 7385

Dan juga memanjatkan do’a yang menjadi hajat dan keinginan kita kepada Allah serta

juga berusaha memperbanyak membaca wirid (dzikir) serta jika masih ada waktu bisa

mengerjakan shalat suhnah yang lain (sebelum ditutup dengan shalat witir)

21

http://wahdahsamarinda.wordpress.com/2008/03/18/sholat-sunnah-malam

Sumber asalnya dari: kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah, edisi

Indonesia Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Penulis Khalid

Al-Husainan, Penerjemah Zaki Rachmawan]

19. Akhiri dengan salat witir

Dari Aisyah Ummul Mukminin Radhiyallahu ‘anha, dia bercerita…

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat 11 raka’at

pada waktu antara selesai shalat Isya –yaitu, suatu waktu yang oleh orang-orang

disebut sebagai atamah- sampai Shubuh sebanyak 11 rakaat, dengan salam setiap

dua raka’at dan mengerjakan shalat witir satu raka’at. Dan jika mu’adzin telah

berhenti dari mengumandangkan adzan shalat Shubuh dan sudah tampak jelas pula

fajar olehnya dan beliau juga sudah didatangi oleh muadzin, maka beliau segera

berdiri dan mengerjakan 2 rakaat ringan, dan kemudian berbaring di atas lambung

kanannya sehingga datang muadzin kepada beliau untuk mengumandangkan

(Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, di dalam kitab Shalaatul Musaafirin

wa Qashruha, bab Shalaatul Lail wa Adadu Raka’aatin Nabi Shallallahu ‘alaihi

wa sallam fil Lail wa Annal Witr Rak’atan wa Anna Rak’ah Shalaatun Shahiihah,

(hadits no. 736. Dan asal hadits berada pada Al-Bukhari. Lihat Jaami’ul Ushuul

Dari Abu Bashrah Al-Ghifari, dia bercerita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Sesungguhnya Allah telah menambah untuk kalian satu shalat, yaitu witir. Oleh

karena itu, kerjakanlah ia di antara shalat Isya sampai shalat Shubuh”

(Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam kitab, Al-Musnad (VI/7 dan 397).

Dan dinilai shahih oleh Al-Albani di dalam kitab, Silsilah Ash-Shahihah (hadits no.

Jadi, kedua hadits di atas secara jelas menujukkan bahwa shalat malam dan witir itu

waktunya dimulai dari setelah shalat Isya (yang oleh orang-orang disebut dengan atamah)

Dan pernyataan yang menyebutkan bahwa akhir waktunya adalah Shubuh, diperkuat

oleh apa yang ditegaskan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Dan jika salah seorang di antara kalian khawatir (akan) masuk waktu Shubuh,

maka hendaklah dia mengerjakan shalat satu raka’at shalat witir sebagai

penutup bagi shalat yang telah dikerjakannya” (Takhrij hadits ini akan diberikan

selanjutnya pada pembahasan berikutnya)

Ibnu Nashr mengatakan:

”Yang menjadi kesepakatan para ulama adalah bahwa antara shalat Isya

sampai terbit fajar merupakan waktu shalat witir. Dan mereka berbeda

pendapat mengenai waktu setelah itu sampai shalat Shubuh dikerjakan.

Dan telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau

memerintahkan untuk mengerjakan shalat witir sebelum terbit fajar”

(Mukhtashar Qiyaamil Lail, hal. 119)

“Yang terbaik bagi orang yang khawatir tidak bisa bangun, di akhir malam

untuk mengerjakan shalat di awal waktu. Sedangkan bagi siapa yang yakin

akan bangun, maka yang terbaik baginya adalah mengakhirkan pelaksanaan

shalat witir sampai akhir malam”

Hal ini didasarkan pada apa yang ditegaskan dari Jabi Radhiyallahu ‘anhu, di mana dia

bercerita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

“Barangsiapa khawatir tidak bangun di akhir malam, maka hendaklah dia

mengerjakan shalat witir di awal waktunya. Dan barangsiapa yang serius

hendak bangun di akhir malam, maka hendaklah dia mengerjakan shalat witir

di akhir malam, karena sesungguhnya shalat di akhir malam itu disaksikan (oleh

para Malaikat). Dan demikian itu lebih baik”

(Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shalaatul Musaafiriin wa

Qasruha, bab Man Khaafa an laa Yaquuma Aakhiral Lail fal Yuutir Awwaluhu, (hadits

Tentang bab shalat witir ini dinukil dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit

Tathawwu, Edisi Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu

‘alaihi wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit Pustaka

Asy-Syafi’i].

Sumber

ana

http://www.almanhaj.or.id/content/2361/slash/0

Beberapa Kesimpulan Penutup

Hukum sholat malam adalah sunah muakkad

Waktunya adalah setelah sholat ‘isya sampai dengan sebelum waktu sholat shubuh

Akan tetapi, waktu yang paling utama adalah 1/3 malam terakhir dan boleh

dikerjakan sesudah tidur ataupun sebelumnya

Jumlah rakaatnya paling sedikit adalah 1 rakaat

Berdasarkan sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam,

“Shalat malam adalah 2 rakaat (salam) 2 rokaat (salam), apabila salah seorang

di antara kamu khawatir akan datangnya waktu shubuh maka hendaklah dia

sholat 1 rokaat sebagai witir baginya” (HR. Bukhori dan Muslim)

Dan jumlah rakaat paling banyak adalah 11 rakaat

Berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha, “Tidaklah Rosululloh sholallohu

“Sholat malam di bulan ramadhon atau pun bulan yang lainnya lebih dari 11

rokaat” (HR. Bukhori dan Muslim), walaupun mayoritas ulama menyatakan tidak

ada batasan dalam jumlah rakaatnya

===================================================================

Demikianlah beberapa keutamaan, kemuliaan dan keindahan qiyamul lail

Sungguh kita akan merasakan keindahannya bila hati kita telah diberi taufik

oleh Allah ta’ala dan tidak akan merasakan keindahannya bagi siapa pun yang

dijauhkan dari taufik Allah subhanahu wata’ala

Semoga kita semua bisa senantiasa berusaha menjadi hamba-Nya yang beruntung

tersebut; “diberi keutamaan menegakkan qiyamullail dengan beristiqamah”

Dan mari kita berazzam (mengi’tiqadkan diri dengan kuat) untuk berusaha

senantiasa menghidupkan malam-malam kita bersama kemuliaan yang dianugerahi-Nya

Wallahu waliyyut taufiq

Hamba yang senantiasa mengharap kekuatan dari-Nya, mengharap penjagaan-Nya

*) Beberapa dalil ana kutip dari banyak sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s