permintaan daging sapi

Posted: Mei 11, 2011 in materi kuliah
Tag:, , ,

Permintaan daging sapi akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kesejahteran masyarakat. Kesadaran masyarakat akan pentingnya kebutuhan protein hewani juga menjadi penyebab meningkatnya permintaan daging sapi. Namun peningkatan tersebut tidak sebanding dengan perkembangan populasi sapi potong. Saat ini terdapat kecenderungan yang menunjukkan semakin lebarnya kesenjangan antara laju permintaan dan laju penawarannya, terutama daging sapi, permasalahan utama di dalam upaya pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional adalah ketidakmampuan sektor produksi domestik untuk mengimbangi laju pertumbuhan konsumsi.

Indikator kesenjangan antara permintaan dan penawaran tersebut berdasarkan fakta menunjukkan bahwa Indonesia hanya mampu menyediaan daging sapi dalam negeri pada tahun 2008 hanya 60 % dari kebutuhan dan 40 % sisanya dipenuhi dari impor berupa, sapi bakalan (453.000 ekor) dan daging sapi (70.000 ton). Dari impor tersebut, hampir 40 % masuk ke Jawa Barat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Saat ini, kebutuhan konsumsi daging Jawa Barat tampaknya belum dapat dipenuhi oleh produksi domestik. Berdasarkan data terakhir, kemampuan domestik Jawa Barat dalam menyediakan daging sapi baru mencapai sekitar 20 % dari total kebutuhan, sementara sisanya disediakan melalui impor ternak hidup dan daging antar propinsi atau antar negara. Antar propinsi, Jawa Barat masih harus mengimpor sapi potong rata-rata sebanyak 245.000 ekor setiap tahunnya, sementara rata-rata 180.000 ekor pada impor antar negara. Populasi sapi potong di Jawa Barat pada tahun 2009 adalah 302.943 ekor (Direktorat Jendral Peternakan, 2009).
Besarnya pangsa konsumsi daging serta tingkat impor tidak lain merupakan alasan utama yang menunjukkan bahwa Jawa Barat akan tetap memiliki peranan yang sangat strategis di masa depan. Sebagai salah satu wilayah konsumen daging yang terbesar, kontribusi Jawa Barat di dalam upaya untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional diperkirakan dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan nasional kepada komoditas impor, sekaligus memperlambat arus devisa yang harus dikeluarkan oleh sistem perekonomian nasional ke pasar global. Sejalan dengan semangat tersebut, program pemenuhan kebutuhan daging sapi yang digagas secara nasional melalui program Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi 2014 “P2SDS-2014” akan sangat ditentukan oleh kemampuan Jawa Barat di dalam meningkatkan populasi sapi potongnya.

Salah satu upaya Jawa Barat untuk menciptakan kondisi di atas adalah dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki terutama lahan, baik lahan untuk beternak maupun lahan untuk pakan. Pada saat ini wilayah yang berpotensi untuk dijadikan daerah pengembangan sapi potong adalah wilayah Jawa Barat bagian selatan. Jawa Barat bagian selatan berpotensi untuk dijadikan wilayah pengembangan sapi potong karena sebagian besar wilayahnya merupakan perkebunan sehingga pemeliharaan sapi potong dengan pola ekstensif cocok dilakukan di wilayah tersebut. Salah satu wilayah di Jawa Barat bagian selatan yang memiliki kriteria tersebut adalah Kecamatan Agrabinta Kabupaten Cianjur. Lahan perkebunan yang ada memberikan banyak manfaat dan kemudahan bagi peternak sapi potong yang menggunakan pola ekstensif, terutama dalam hal pakan yang merupakan biaya terbesar dari total biaya produksi. Dengan adanya perkebunan, maka pakan ternak dapat diperoleh dari perkebunan tersebut dengan bebas tanpa harus mencari lagi sehingga peternak tidak perlu memikirkan tentang masalah pakan. Manfaat dan keuntungan yang lain adalah pola kepemilikan. Adanya perkebunan yang luas dan pola ekstensif sebagai sistem pemeliharaan, maka pola kepemilikan dapat dimaksimalkan, peternak dapat memelihara sapi potong dengan jumlah yang banyak karena tidak perlu memikirkan lahan yang dimiliki.
Pengembangan sapi potong tidak akan terlepas dari teknologi. Teknologi yang biasa digunakan dalam peternakan sapi potong adalah teknologi Inseminasi Buatan (IB). IB dibutuhkan untuk menunjang pengembangan populasi. Sulitnya mengontrol reproduksi atau perkawinan merupakan alasan yang dihadapi oleh peternak yang menggunakan pola ekstensif, karena biasanya sapi-sapi yang dimiliki oleh peternak sebagian besar adalah sapi betina sehingga peternak memiliki kesulitan dalam hal perkawinan. Oleh karena itu penggunaan Inseminasi Buatan (IB) merupakan solusi teknologi yang tepat guna untuk masalah tersebut.

Peternak yang menggunakan IB sebagai cara untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi potong mampu meningkatkan efisiensi usaha, karena anak sapi (pedet) hasil IB dapat tumbuh dan berkembang lebih baik sehingga memberikan waktu jual sapi yang lebih pendek dari pada usaha ternak yang tidak menggunakan IB. Selain itu dengan menggunakan IB ada kecenderungan kualitas sapi potong hasil silangan lebih baik dari pada sapi lokal. Fenomena seperti ini, memungkinkan peternak memelihara betina yang lebih banyak dengan demikian dapat diharapkan terjadi peningkatan pendapatan peternak secara nyata dan pada akhirnya tujuan pengembangan populasi sapi potong Jawa Barat dapat tercapai dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s