Struktur usaha ternak sapi potong rakyat pada saat ini umumnya masih bersifat tradisional, yang ditunjukkan dengan adanya skala pemilikan ternak yang relatif kecil, karena masih merupakan usaha sampingan belum menjadi usaha yang sepenuhnya komersial. Selain itu ditandai dengan basis produksi rumah tangga dan rendahnya tingkat investasi serta masih minimnya penggunaan teknologi menyebabkan rendahnya produktivitas dan mutu produksi yang bervariasi. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan posisi peternkan rakyat menjadi lemah (Soehadji, 1992).
Peternakan rakyat merupakan tulang punggung pasokan nasiaonal, sedangkan hasil penggemukan ex-impor sebagai pendukung dan kekurangannya dipenuhi oleh daging impor (Oetoro, 1997). Namun kenyataannya arus impor sapi bakalan dan daging sapi dari luar negeri cenderung mengalami peningkatan, dorongan permintaan daging yang kuat belum dapat diimbangi oleh pasokan sapi dalam negeri. Menurut Putu, dkk. (1997), hal ini disebabkan oleh: (1) produk sapi bakalan lokal masih terbatas karena tingkat produktivitas rendah, CI panjang, pubertas lambat, dan S/C tinggi; (2) pertumbuhan pasca sapih rendah karena kualitas bibit, pakan rendah, penyakit, dan manajemen kurang memadai; (3) insentif ekonomi kecil bagi peternak yang menghasilkan pedet; dan (4) sumber daya lokal belum termanfaatkan, terutama biomassa hasil ikutan pertanian dan perkebunan.

Selanjutnya Putu, dkk. (1997), mengemukakan bahwa dalam melaksanakan pengembangan peternakan sapi potong, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan seperti sumber daya manusia dan sumber daya pakan ternak yang berkisinambungan. Kemudian proses budidaya perlu mendapat perhatian yang meliputi bibit, ekologi, dan teknologi. Selain itu lingkungan strategis yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi keberhasilan pengembangan proses budidaya, salah satu upaya perbaikan sistem budidaya ternak sapi potong, dapat dilakukan melalui penerapan teknologi Inseminasi Buatan (IB), yang secara langsung menunjang program peningkatan kualitas genetik sapi lokal, terutama dalam pembentukan populasi dasar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s